Situs Budaya di Samalanga Kian Terabaikan
Samalanga adalah salah satu
kecamatan yang berada di wilayah pemerintahan kabupaten Bireuen. Daerah yang
memiliki julukan kota santri ini dikenal sebagai daerah yang banyak didapati lembaga
pendidikan keagamaan “ Dayah “. Telah
banyak melahirkan tokoh agama serta membangun lembaga pendidikan agama di
daerah-daerah lainnya.
Selain dikenal dengan kota
santri, samalanga juga memiliki potensi budaya yang mesti mendapatkan perhatian
juga. Saat ini beberapa situs budaya yang ada terlihat sangat menghawatirkan
dan bahkan ada yang hanya tersisa lantai dan pondasinya saja. Jika ini terus
berlangsung dan tanpa adanya perhatian yang serius, maka apa yang akan terjadi
terhadap sejarah dan cerita samalanga kedepannya?
Berikut beberapa situs budaya
yang ada di kecamatan samalanga
Rumoh
Krueng
Istana Tun Sri Lanang atau
dikenal dengan nama Rumoh Krueng adalah bangunan tempat tinggal Tun Sri Lanang
tahun 1613-1659. Tun Sri Lanang adalah yang membangun samalanga, di mana saat
itu samalanga adalah salah satu wilayah yang mengalami kekosongan penduduk. Untuk
mengisi kekosongan wilayah ini Sultan Iskandar Muda membawa orang-orang dari
Johor dan Pahang termasuk sebagian pembesarnya ke kawasan ini.
Istana Tun Sri Lanang terbuat
dari kayu beratap rumbia yang menghadap ke arah selatan dengan
denah persegi panjang yang berukuran 18 x 12,17 meter. Istana ini memilki
bentuk atau ciri khas bangunan tradisional Aceh. Secara umum bangunan atau
Istana Tun Sri lanang ini didominasi oleh warna putih dengn pemakaian warna
hijau.
Rumoh Mirah
Rumoh Mirah merupakan bekas
kediaman almarhum Mayjend TNI T . Hamzah Bendahara mantan Pangdam Iskandar Muda
periode 1970-1974 merupakan anak dari Ampon Chiek.T. Hamzah merupakan keturunan
Tun Sri Lanang di Aceh yaitu Tun Rembau yang lebih dikenal dengan panggilan T.
Tjik Di Blang Panglima Perkasa menurunkan keluarga Ampon Chik Samalanga sampai
saat ini dan tetap memakai gelar Bendahara diakhir namanya seperti Mayjen T.
Hamzah Bendahara. (AW)
Ketika gempa dahsyat yang
mengguncang Aceh jelang Shalat Subuh pada rabu 6 Desember 2016 kemarin yang
meluluh lantakkan ratusan rumah warga, mesjid serta bangunan lainnya. Rumoh Mirah
tersebut juga ikut hancur, bahkan benar-benar hancur.
Mestinya Rumoh Mirah tersebut
saat ini menjadi salah satu situs yang dapat membantu menjelaskan kepada
generasi sekarang dan kedepannya tentang bagaiman cerita daerah yang dikenal
dengan kota santri tersebut.
Rumah adat
Aceh
Rumah Aceh ini dulunya berasal
dari Lueng Putu, Pidie Jaya. Kemudian Mayjend T. Hamzah Bendahara memindahkan
kedua rumah tersebut ke samalanga untuk di rawat serta di jadikan situs rumah
adat yang perlu di lestarikan. Kemudian presiden Soeharto pada saat itu
menginstruksikan dibuat rumah adat setiap provinsi di Taman Mini Indonesia
Indah ( TMII ), oleh Mayjend T. Hamzah Bendahara memindahkan salah satu rumah
aceh tersebut ke Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ).
Namun sayangnya pasca Tsunami yang
melanda aceh 26 Desember 2004 lalu, rumah aceh situs kebanggaan masyarakat
samalanga tersebut telah rusak parah akibat tidak terurus. Bahkan sampai saat
ini belum ada upaya apaun yang di lakukan oleh pemerintah.
Dari berbagai sumber