advertize

4 January 2017

Situs Budaya di Samalanga Kian Terabaikan



Situs Budaya di Samalanga Kian Terabaikan

Samalanga adalah salah satu kecamatan yang berada di wilayah pemerintahan kabupaten Bireuen. Daerah yang memiliki julukan kota santri ini dikenal sebagai daerah yang banyak didapati lembaga pendidikan keagamaan “ Dayah “. Telah banyak melahirkan tokoh agama serta membangun lembaga pendidikan agama di daerah-daerah lainnya.

Selain dikenal dengan kota santri, samalanga juga memiliki potensi budaya yang mesti mendapatkan perhatian juga. Saat ini beberapa situs budaya yang ada terlihat sangat menghawatirkan dan bahkan ada yang hanya tersisa lantai dan pondasinya saja. Jika ini terus berlangsung dan tanpa adanya perhatian yang serius, maka apa yang akan terjadi terhadap sejarah dan cerita samalanga kedepannya?  

Berikut beberapa situs budaya yang ada di kecamatan samalanga


Rumoh Krueng


Istana Tun Sri Lanang atau dikenal dengan nama Rumoh Krueng adalah bangunan tempat tinggal Tun Sri Lanang tahun 1613-1659. Tun Sri Lanang adalah yang membangun samalanga, di mana saat itu samalanga adalah salah satu wilayah yang mengalami kekosongan penduduk. Untuk mengisi kekosongan wilayah ini Sultan Iskandar Muda membawa orang-orang dari Johor dan Pahang termasuk sebagian pembesarnya ke kawasan ini.

Istana Tun Sri Lanang terbuat dari kayu beratap rumbia yang  menghadap ke arah  selatan dengan denah persegi panjang yang berukuran 18 x 12,17 meter. Istana ini memilki bentuk atau ciri khas bangunan tradisional Aceh. Secara umum bangunan atau Istana Tun Sri lanang ini didominasi oleh warna putih dengn pemakaian warna hijau.


Rumoh Mirah



Rumoh Mirah merupakan bekas kediaman almarhum Mayjend TNI T . Hamzah Bendahara mantan Pangdam Iskandar Muda periode 1970-1974 merupakan anak dari Ampon Chiek.T. Hamzah merupakan keturunan Tun Sri Lanang di Aceh yaitu Tun Rembau yang lebih dikenal dengan panggilan T. Tjik Di Blang Panglima Perkasa menurunkan keluarga Ampon Chik Samalanga sampai saat ini dan tetap memakai gelar Bendahara diakhir namanya seperti Mayjen T. Hamzah Bendahara. (AW)

Ketika gempa dahsyat yang mengguncang Aceh jelang Shalat Subuh pada rabu 6 Desember 2016 kemarin yang meluluh lantakkan ratusan rumah warga, mesjid serta bangunan lainnya. Rumoh Mirah tersebut juga ikut hancur, bahkan benar-benar hancur.

Mestinya Rumoh Mirah tersebut saat ini menjadi salah satu situs yang dapat membantu menjelaskan kepada generasi sekarang dan kedepannya tentang bagaiman cerita daerah yang dikenal dengan kota santri tersebut.


Rumah adat Aceh 


Rumah Aceh ini dulunya berasal dari Lueng Putu, Pidie Jaya. Kemudian Mayjend T. Hamzah Bendahara memindahkan kedua rumah tersebut ke samalanga untuk di rawat serta di jadikan situs rumah adat yang perlu di lestarikan. Kemudian presiden Soeharto pada saat itu menginstruksikan dibuat rumah adat setiap provinsi di Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ), oleh Mayjend T. Hamzah Bendahara memindahkan salah satu rumah aceh tersebut ke Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ).

Namun sayangnya pasca Tsunami yang melanda aceh 26 Desember 2004 lalu, rumah aceh situs kebanggaan masyarakat samalanga tersebut telah rusak parah akibat tidak terurus. Bahkan sampai saat ini belum ada upaya apaun yang di lakukan oleh pemerintah.


Dari berbagai sumber


Comments System