SEMANGAT MUDA VERSUS KESENIAN TUA
RAPA'I UROEH DALAM PERKEMBANGANNYA
Oleh : Teuku Ilyas
Awai Lon Peu Phon
Saat ini Aceh merupakan salah satu daerah
di Indonesia yang memiliki aktivitas kesenian yang tinggi. Peningkatan minat
masyarakat terhadap kesenian lokal terlihat sangat signifikan pasca Tsunami
melanda provinsi berjulukan Serambi Mekah
tersebut. Banyak anak muda Aceh yang mulai jatuh cinta kepada kesenian
tradisional yang ada di daerahnya. Entah apa yang menjadi latar belakang
fenomena ini. Mereka yang mulai mencintai kesenian Aceh mungkin baru sadar atau
ikut-ikutan, bisa saja karena iri melihat bagaimana masyarakat yang bukan orang
Aceh sangat mencintai kesenian tradisional Alami itu sendiri.
Di Jakarta
sebagai ibukota negara sudah pasti banyak kesenian urban yang tiba dan
berkembang di sana. Yang menarik adalah bagaimana olahan materi kesenian
tradisional yang dikuasai Dek Gam dkk. mampu di olah menjadi satu kesenian baru
dengan konsep tradisional dan ini sangat bisa diterima di kalangan masyarakat
Jakarta, khususnya pelajar se-Jabodetabek. Antusiasme apresiasi mereka luar
biasa kepada kesenian yang familiar dengan sebutan “RatohJaroe”.RatohJaroe saat ini sudah menjadi ekstrakulikuler di
setiap sekolah yang ada di Jakarta. Bahkan bagi sekolah yang memiliki tim
kesenian ini dianggap memiliki gengsi tersendiri di kalangan sekolah yang ada
di sana. Luar biasa memang geliat Dek Gam dkk.
Apa yang menjadi rahasia atau strategi
sehingga kesenian ini bisa amat sangat diminati oleh masyarakat Jakarta? Ini menarik
jika kita bisa menganalisis serta meneliti apa alasan utama yang menjadikan
kesenian ini begitu diminati? Struktrur pertunjukannyakah? Atau Pola Ritme yang
membentuk Gerak? Sudah pasti tidak secara tekstual, karena mereka bukanlah Aceh
yang sudah pasti tidak mengerti bahasa Aceh. Bahkan ada yang menyanyikan teks
lagu yang tidak benar secara ejaan bahasa Aceh.
Fenomena serupa saat ini sedang
berlangsung di Aceh khususnya Banda Aceh. Kehadiran suatu kelompok anak muda
yang memainkan rapai secara rutin menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat
yang berada di lingkungan kesenian itu berlangsung.
Kesenian Tua dengan Konsep Orang Muda
Di antara kesenian Aceh yang mulai kembali
menjadi tuan rumah di negerinya sendiri adalah Rapai Uroh. Rapai Uroh merupakan
salah satu bentuk kesenian musik tradisional Aceh yang sudah berusia sangat tua dengan
menggunakan konsep berkesenian yang sederhana, yaitu konsep kegotongroyongan.
Atas dasar konsep gotong royong, kesenian ini memiliki satu kekuatan tersendiri
dalam menjaga nilai-nilai ketradisiannya. Kesenian ini mengalami perkembangan
yang signifikan pasca tsunami melanda Aceh.
Bur’am merupakan salah satu
groupRapa’iUroh. Group ini sangat mengutamakan konsep kesenian rapai secara
tradisional. Jika dilihat dari kegiatan latihannya, mereka sangat terbiasa
dengan konsep yang terdahulu. Sebagai bentuk rasa kebersamaan dan
kegotongroyongan, mereka selalu mengadakan latihan atau kegiatan menabuhkan
rapai di balai desa atau tempat-tempat yang ditentukan.
Group ini dibentuk pada tahun 2012 lalu.
Telah mengalami perkembangan yang cukup baik di kalangan masyarakat. Sebagai
sebuah group musik atau komunitas yang disiplin berkesenian mengacu ke dalam
bentuk musik etnik Aceh yaitu rapa’i terbilang sukses. Bur’am beranggotakan oleh
anak muda Aceh yang peduli dengan kesenian tradisional. Meski begitu mereka
memiliki selera musik yang segar dan kekinian (modern).
Dalam konsep musikalnya Bur’am menyajikan
komposisi rapa’i Aceh dengan rasa yang baru. Pola ritem yang terdapat dalam kesenian
ini juga banyak diadopsi dari pola permainan drum pada group musik Barat yang
berkembang saat ini.
Perkembangan komposisi dalam konteks
musikal Rapa’iUroh pada groupBur’am saat ini mampu memunculkan dua pandangan
yang berlawanan. Secara positif, Bur’am mampu mengembangkan kesenian tradisi
Aceh dengan konteks musik modern dan konsep yang segar sehingga minat generasi
muda Aceh pun kian bertambah untuk mempelajari intrument musik rapai. Aspek
negatif yang muncul juga menjadi perhatian khusus dari pihak praktisi kesenian
Rapa’iUroh yang sudah berusia tua ini.
Nilai tradisi yang terdapat pada kesenian
ini juga akan bergeser seperti; pola ritem asli/original dan secara fungsi
sosial. Jika pengembangan konsep musikal pada group ini terlalu lepas, maka
pemahaman masyarakat luar/asing tentang kesenian ini juga akhirnya akan
berbeda. Secara otomatis mereka yang bukan orang Aceh akan mengganggap bentuk
komposisi Bur’am ini merupakan satu kesenian tradisi. Ini merupakan kegelisahan
tersendiri karena asumsi tentang kesenian Rapa’iUroh akan bergeser dari
Rapa’iUroh yang asli.
Fungsi sosial yang bergeser jika
pengembangan yang terlalu berlebihan yaitu, fungsi religi/keagamaan juga akan
hilang. Karena jika yang terjadi hanya terfokus pada bentuk penyajian dan tidak
ke dalam nilai atau pesan yang hendak disampaikan, maka fungsi sosial yang
terdapat pada konsep pertunjukan Bur’amhanyalah fungsi hiburan. Sedangkan
konsep pertunjukan kesenian Rapai Uroh awalnya mengandung
beberapa fungsi sosial seperti, fungsi religi, fungsi komunikasi/silaturahmi,
hiburan dan lain-lain.
Menghipnotis Penonton Atau Konsep Sufiistik?
Dalam pertunjukannya pada eventRapa’i
International yang dilaksanakan di Taman
Ratu Saffiatuddin Oktober 2016 lalu terlihat jelas semangat bermain rapa’i anak
muda yang dikemas dengan konsep klasik atau tradisional. Semangat muda yang
dimaksud adalah pola ritem modern yang dikolaborasikan dengan pola ritem asli
pada kesenian rapai uroh.
Pada pertunjukan tersebut terlihat 19
orang pemain duduk membentuk lingkaran dan menyentak penonton melalui semangat
mereka dalam menabuh rapa’i. Hal tersebut terlihat sama dengan kesenian Kecak
dari Bali. Ini menarik untuk ditinjau secara konsep berkesenian yang latar
belakang keagamaannya berbeda, namun dalam hal kesejarahan Aceh dan Bali
memiliki kesamaan bahwa daerah itu sama-sama pernah menjadi labuhan pusat
ajaran Hindu.
Konsep duduk melingkar banyak terdapat
pada beberapa kesenian yang ada di tanah air. Pertanyaannya adalah; apa makna
di balik konsep duduk melingkar yang terdapat pada beberapa kesenian itu?
Menurut beberapa sumber mengatakan bahwa
pola lantai kesenian yang ada di Indonesia pada prinsipnya sama, yaitu pola
lantai garis lurus dan garis melengkung. Garis melengkung yang dimaksud juga
termasuk ke dalam konsep pola lantai yang membentuk lingkaran. Garis lurus yang
terdapat pada beberapa kesenian yang ada di nusantara merupakan simbolisasi
pada hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan lingkungan sekitar.
Sedangkan konsep melingkar yang digunakan Bur’am dan sama dengan Tari Kecak ini
mungkin adalah satu perwujudan dimensi gotong royong. Jika memahami konsep
melingkar dalam pandangan semiotika maka proses pembentukan sebuah lingkaran
diawali oleh sebuah titik yang kemudian titik tersebut pindah dan kembali
bertemu dengan titik awal. Tafsir dalam segala sesuatu yang lahir pasti akan
menjumpai kematian (awal dan akhir). Jika konsep itu dikaitkan dengan latar
belakang kesenian dan kebudayaan pada setiap daerah yang menggunakan konsep
melingkar, maka bisa saja pertunjukan kesenian yang ada memiliki latar belakang
fungsi sosial keagamaan/religi dalam perkembangannya. Manusia yang menjalani
peradaban kebudayan pada masa terciptanya kesenian tersebut memiliki nilai imanen yang kuat terhadap keyakinan yang
mereka anut.
Pada pertunjukan tersebut terlihat seluruh
pemain rapai menggunakan kostum berwarna putih dan menggunakan kain sarung
warna putih. Dimensi identitas Islam kemudian tersirat pada konsep pemilihan
kostum. Melalui pertunjukan yang berlangsung selama 10 menit itu banyak
pesan-pesan moral yang tersirat, seperti mengingatkan kita bahwa sangat penting
menjaga kelestarian kesenian tradisi. Sikap ketauhidan terlihat dengan
memunculkan simbol yang dalam konsep penanda dan petanda ilmu semiotika
terlihat di bagian akhir pertunjukan. Saat seluruh pemain menjulurkan jari
telunjuk ke arah atas, secara pemahaman yang telah disepakati itu merupakan
satu simbol ketauhidan kepada Allah SWT.
Pesan lain yang terdapat pada pertunjukan
mereka adalah semacam ajakan untuk anak muda Aceh lainnya untuk bisa tertarik
mengenal rapai dan menjadi mahir rapai. Jika banyak anak muda Aceh yang senang
bermain rapai maka secara otomatis kesenian tradisional ini akan terus
berlangsung.
Semangat pada pertunjukan Bur’am merupakan
suatu wujud yang hadir dari dimensi karakter bawaan masyarakat Aceh yang secara
alami terbawa dalam setiap kesenian tradisional Aceh.
Pendekatan komposisi yang sangat dominan
adalah pendekatan re-intepretasi tradisi. Banyak pola ritem yang sudah
mengalami pengembangan. Terlihat dari
adanya beberapa pola rapa’iPulot yang telah dikembangkan dan konsep
permainannya masih menjaga konteks tradisinya. Dalam komposisi Bur’am juga
terdapat beberapa lagu yang sudah ada.
Lagu dan irama syair “Lam la he eeelaho sen baguraalaa ala hododooo lam a lam a masen lam baguraheeheee”
merupakan teks syair bisa dikatakan
tidak memiliki arti secara harfiah, namun teks ini memiliki arti sebagai
awalan ajakan untuk melakukan satu hajatan peperangan yang dalam konsep
pertunjukan ini dimaknai sebagai ajakan untuk bermain rapai dengan semangat
yang tinggi. Cuplikan syair tersebut juga terdapat pada lagu Rafly Kande yang
disajikan dengan konteks berbeda dan lagu “Homla
he le ha la” pada bagian ending adalahlagu yang terdapat pada tari
likokpulo yang dipugar secara konteks musikalnya.
Bur’am hadir dengan semangat muda dan
mampu menggoda seniman muda kepada satu bentuk kesenian tua. Luar biasa..!!!
Oleh :
Teuku Ilyas, Mahasiswa Seni Karawitan, ISBI Aceh
Photoby :Bur’am
Aceh