advertize

3 July 2017

SEMANGAT MUDA VERSUS KESENIAN TUA



SEMANGAT MUDA VERSUS KESENIAN TUA
RAPA'I UROEH DALAM PERKEMBANGANNYA
Oleh : Teuku Ilyas

Awai Lon Peu Phon
Saat ini Aceh merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki aktivitas kesenian yang tinggi. Peningkatan minat masyarakat terhadap kesenian lokal terlihat sangat signifikan pasca Tsunami melanda provinsi  berjulukan Serambi Mekah tersebut. Banyak anak muda Aceh yang mulai jatuh cinta kepada kesenian tradisional yang ada di daerahnya. Entah apa yang menjadi latar belakang fenomena ini. Mereka yang mulai mencintai kesenian Aceh mungkin baru sadar atau ikut-ikutan, bisa saja karena iri melihat bagaimana masyarakat yang bukan orang Aceh sangat mencintai kesenian tradisional Alami itu sendiri.
Di Jakarta  sebagai ibukota negara sudah pasti banyak kesenian urban yang tiba dan berkembang di sana. Yang menarik adalah bagaimana olahan materi kesenian tradisional yang dikuasai Dek Gam dkk. mampu di olah menjadi satu kesenian baru dengan konsep tradisional dan ini sangat bisa diterima di kalangan masyarakat Jakarta, khususnya pelajar se-Jabodetabek. Antusiasme apresiasi mereka luar biasa kepada kesenian yang familiar dengan sebutan “RatohJaroe”.RatohJaroe saat ini sudah menjadi ekstrakulikuler di setiap sekolah yang ada di Jakarta. Bahkan bagi sekolah yang memiliki tim kesenian ini dianggap memiliki gengsi tersendiri di kalangan sekolah yang ada di sana. Luar biasa memang geliat Dek Gam dkk.
Apa yang menjadi rahasia atau strategi sehingga kesenian ini bisa amat sangat diminati oleh masyarakat Jakarta? Ini menarik jika kita bisa menganalisis serta meneliti apa alasan utama yang menjadikan kesenian ini begitu diminati? Struktrur pertunjukannyakah? Atau Pola Ritme yang membentuk Gerak? Sudah pasti tidak secara tekstual, karena mereka bukanlah Aceh yang sudah pasti tidak mengerti bahasa Aceh. Bahkan ada yang menyanyikan teks lagu yang tidak benar secara ejaan bahasa Aceh.
            Fenomena serupa saat ini sedang berlangsung di Aceh khususnya Banda Aceh. Kehadiran suatu kelompok anak muda yang memainkan rapai secara rutin menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang berada di lingkungan kesenian itu berlangsung.

Kesenian Tua dengan Konsep Orang Muda
Di antara kesenian Aceh yang mulai kembali menjadi tuan rumah di negerinya sendiri adalah Rapai Uroh. Rapai Uroh merupakan salah satu bentuk kesenian musik tradisional Aceh  yang sudah berusia sangat tua dengan menggunakan konsep berkesenian yang sederhana, yaitu konsep kegotongroyongan. Atas dasar konsep gotong royong, kesenian ini memiliki satu kekuatan tersendiri dalam menjaga nilai-nilai ketradisiannya. Kesenian ini mengalami perkembangan yang signifikan pasca tsunami melanda Aceh.
Bur’am merupakan salah satu groupRapa’iUroh. Group ini sangat mengutamakan konsep kesenian rapai secara tradisional. Jika dilihat dari kegiatan latihannya, mereka sangat terbiasa dengan konsep yang terdahulu. Sebagai bentuk rasa kebersamaan dan kegotongroyongan, mereka selalu mengadakan latihan atau kegiatan menabuhkan rapai di balai desa atau tempat-tempat yang ditentukan.
Group ini dibentuk pada tahun 2012 lalu. Telah mengalami perkembangan yang cukup baik di kalangan masyarakat. Sebagai sebuah group musik atau komunitas yang disiplin berkesenian mengacu ke dalam bentuk musik etnik Aceh yaitu rapa’i terbilang sukses. Bur’am beranggotakan oleh anak muda Aceh yang peduli dengan kesenian tradisional. Meski begitu mereka memiliki selera musik yang segar dan kekinian (modern).
Dalam konsep musikalnya Bur’am menyajikan komposisi rapa’i Aceh dengan rasa yang baru. Pola ritem yang terdapat dalam kesenian ini juga banyak diadopsi dari pola permainan drum pada group musik Barat yang berkembang saat ini.
Perkembangan komposisi dalam konteks musikal Rapa’iUroh pada groupBur’am saat ini mampu memunculkan dua pandangan yang berlawanan. Secara positif, Bur’am mampu mengembangkan kesenian tradisi Aceh dengan konteks musik modern dan konsep yang segar sehingga minat generasi muda Aceh pun kian bertambah untuk mempelajari intrument musik rapai. Aspek negatif yang muncul juga menjadi perhatian khusus dari pihak praktisi kesenian Rapa’iUroh yang sudah berusia tua ini.
Nilai tradisi yang terdapat pada kesenian ini juga akan bergeser seperti; pola ritem asli/original dan secara fungsi sosial. Jika pengembangan konsep musikal pada group ini terlalu lepas, maka pemahaman masyarakat luar/asing tentang kesenian ini juga akhirnya akan berbeda. Secara otomatis mereka yang bukan orang Aceh akan mengganggap bentuk komposisi Bur’am ini merupakan satu kesenian tradisi. Ini merupakan kegelisahan tersendiri karena asumsi tentang kesenian Rapa’iUroh akan bergeser dari Rapa’iUroh yang asli.
Fungsi sosial yang bergeser jika pengembangan yang terlalu berlebihan yaitu, fungsi religi/keagamaan juga akan hilang. Karena jika yang terjadi hanya terfokus pada bentuk penyajian dan tidak ke dalam nilai atau pesan yang hendak disampaikan, maka fungsi sosial yang terdapat pada konsep pertunjukan Bur’amhanyalah fungsi hiburan. Sedangkan konsep pertunjukan kesenian Rapai Uroh awalnya mengandung beberapa fungsi sosial seperti, fungsi religi, fungsi komunikasi/silaturahmi, hiburan dan lain-lain.

Menghipnotis Penonton Atau Konsep Sufiistik?
Dalam pertunjukannya pada eventRapa’i International  yang dilaksanakan di Taman Ratu Saffiatuddin Oktober 2016 lalu terlihat jelas semangat bermain rapa’i anak muda yang dikemas dengan konsep klasik atau tradisional. Semangat muda yang dimaksud adalah pola ritem modern yang dikolaborasikan dengan pola ritem asli pada kesenian rapai uroh.
Pada pertunjukan tersebut terlihat 19 orang pemain duduk membentuk lingkaran dan menyentak penonton melalui semangat mereka dalam menabuh rapa’i. Hal tersebut terlihat sama dengan kesenian Kecak dari Bali. Ini menarik untuk ditinjau secara konsep berkesenian yang latar belakang keagamaannya berbeda, namun dalam hal kesejarahan Aceh dan Bali memiliki kesamaan bahwa daerah itu sama-sama pernah menjadi labuhan pusat ajaran Hindu.
Konsep duduk melingkar banyak terdapat pada beberapa kesenian yang ada di tanah air. Pertanyaannya adalah; apa makna di balik konsep duduk melingkar yang terdapat pada beberapa kesenian itu?
Menurut beberapa sumber mengatakan bahwa pola lantai kesenian yang ada di Indonesia pada prinsipnya sama, yaitu pola lantai garis lurus dan garis melengkung. Garis melengkung yang dimaksud juga termasuk ke dalam konsep pola lantai yang membentuk lingkaran. Garis lurus yang terdapat pada beberapa kesenian yang ada di nusantara merupakan simbolisasi pada hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan lingkungan sekitar. Sedangkan konsep melingkar yang digunakan Bur’am dan sama dengan Tari Kecak ini mungkin adalah satu perwujudan dimensi gotong royong. Jika memahami konsep melingkar dalam pandangan semiotika maka proses pembentukan sebuah lingkaran diawali oleh sebuah titik yang kemudian titik tersebut pindah dan kembali bertemu dengan titik awal. Tafsir dalam segala sesuatu yang lahir pasti akan menjumpai kematian (awal dan akhir). Jika konsep itu dikaitkan dengan latar belakang kesenian dan kebudayaan pada setiap daerah yang menggunakan konsep melingkar, maka bisa saja pertunjukan kesenian yang ada memiliki latar belakang fungsi sosial keagamaan/religi dalam perkembangannya. Manusia yang menjalani peradaban kebudayan pada masa terciptanya kesenian tersebut memiliki nilai imanen yang kuat terhadap keyakinan yang mereka anut.
Pada pertunjukan tersebut terlihat seluruh pemain rapai menggunakan kostum berwarna putih dan menggunakan kain sarung warna putih. Dimensi identitas Islam kemudian tersirat pada konsep pemilihan kostum. Melalui pertunjukan yang berlangsung selama 10 menit itu banyak pesan-pesan moral yang tersirat, seperti mengingatkan kita bahwa sangat penting menjaga kelestarian kesenian tradisi. Sikap ketauhidan terlihat dengan memunculkan simbol yang dalam konsep penanda dan petanda ilmu semiotika terlihat di bagian akhir pertunjukan. Saat seluruh pemain menjulurkan jari telunjuk ke arah atas, secara pemahaman yang telah disepakati itu merupakan satu simbol ketauhidan kepada Allah SWT.
Pesan lain yang terdapat pada pertunjukan mereka adalah semacam ajakan untuk anak muda Aceh lainnya untuk bisa tertarik mengenal rapai dan menjadi mahir rapai. Jika banyak anak muda Aceh yang senang bermain rapai maka secara otomatis kesenian tradisional ini akan terus berlangsung.
Semangat pada pertunjukan Bur’am merupakan suatu wujud yang hadir dari dimensi karakter bawaan masyarakat Aceh yang secara alami terbawa dalam setiap kesenian tradisional Aceh.
Pendekatan komposisi yang sangat dominan adalah pendekatan re-intepretasi tradisi. Banyak pola ritem yang sudah mengalami  pengembangan. Terlihat dari adanya beberapa pola rapa’iPulot yang telah dikembangkan dan konsep permainannya masih menjaga konteks tradisinya. Dalam komposisi Bur’am juga terdapat beberapa lagu yang sudah ada.
Lagu dan irama syair “Lam la he eeelaho sen baguraalaa ala hododooo lam a lam a masen lam baguraheeheee” merupakan teks syair bisa dikatakan  tidak memiliki arti secara harfiah, namun teks ini memiliki arti sebagai awalan ajakan untuk melakukan satu hajatan peperangan yang dalam konsep pertunjukan ini dimaknai sebagai ajakan untuk bermain rapai dengan semangat yang tinggi. Cuplikan syair tersebut juga terdapat pada lagu Rafly Kande yang disajikan dengan konteks berbeda dan lagu “Homla he le ha la” pada bagian ending adalahlagu yang terdapat pada tari likokpulo yang dipugar secara konteks musikalnya.
Bur’am hadir dengan semangat muda dan mampu menggoda seniman muda kepada satu bentuk kesenian tua. Luar biasa..!!!


 



Oleh                : Teuku Ilyas, Mahasiswa Seni Karawitan, ISBI Aceh
Photoby           :Bur’am Aceh

Comments System